"Kebangsaan Indonesia adalah ciptaan rakyat Indonesia,
bukan ciptaan Pemerintah Indonesia.....

Pemerintah Indonesia tinggal mewarisi saja dari rakyat...
Tahun 1928, tujuh belas tahun sebelum kemerdekaan,
beberapa pemuda yang tidak kita ingat lagi namanya atau anonimus,
yang kita ingat salah satunya adalah W.R. Supratman dengan biolanya,
menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Pada waktu itu, pemuda menyatakan prasetya,
bahwa kami adalah satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.
satu tanah air yaitu tanah air Indonesia.
satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.
Kontan semua partai politik di Indonesia mengidentifikasikan dengan nama Indonesia.

Aneh, dan juga tiba-tiba Madjoindo, Marah Rusli,
mengarang dalam bahasa Indonesia,
Armijn Pane berkata horas bah... lalu mengarang dalam bahasa Indonesia.
J. E. Tatenkeng orang Sangir, menulis dalam bahasa Indonesia.
M. R. Dayoh menulis dalam bahasa Indonesia.
Ki Panji Tisna mengarang novel dalam bahasa Indonesia.
Gesang membuat lagu Bengawan Solo dalam bahasa Indonesia.
Tiba-tiba saja diterima sebagai bahasa nasional Indonesia,

Padahal, pemerintah belum ada...

Tidak ada satu penguasa pun yang bisa mempersatukan.
Sultan Agung yang namanya Agung, mempersatukan Jawa saja tidak bisa,
hanya sampai Mantraman, Batavia.

Sampai Belanda masuk
tidak satu penguasa pun yang bisa mempersatukan 'Indonesia'.
Belanda pun tidak bisa...

...Tetapi bangsa Indonesia Sendiri,
bahkan yang anonimus bisa mengatakan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa
dan partai-partai pun mengidentifikasikan Indonesia,
lahir sastra Indonesia...

Tidak semua bangsa bisa mendapat rahmat seperti kita.
...Itu dari rakyat.
pemerintah jangan gede rasa dan mengira tanpa pemerintah tidak ada persatuan dan kesatuan.
Justru pemerintah yang mengacaukan rasa berbangsa........."

Oleh: W.S. Rendra (Pergelaran Keraton Yogyakarta, 20 Agustus 1998)

 

0 komentar:

Posting Komentar

 
isBAYU.com | Ceritanya Begini © 2015. Jombang | INDONESIA. Salam, dariku: Bayu Sulistyo Pratomo
Top