Siapakah Naoko Nemoto? Benarkah nama itu begitu istimewa dimata Soekarno?
Sebelum kita mengupas lebih dalam, tak elok kiranya jika kita tak menyinggung sedikit tentang pribadi Soekarno.






Soekarno, Sang Putra Fajar, Proklamator Kemerdekaan sekaligus Pemimpin Besar Revolusi kita, adalah sosok yang mencintai keindahan. Dengan background seorang insinyur dan darah bangsawan Bali dari sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai.. Soekarno juga terlahir sebagai tokoh kharismatik yang juga fotogenik, ya, coba saja perhatikan penampilannya di setiap dokumen sejarah yang ada..
Namun jika kita berbicara soal keindahan dimata Soekarno,
akan sangat sulit jika dilepaskan dari sosok “WANITA” didalamnya.





Ya, wanita.. ciptaan Tuhan yang satu ini tak pernah lepas dari kehidupan seorang Soekarno. Soekarno pernah menyangkal pemberitaan media Amerika Serikat yang menyebut dirinya gemar melirikkan mata pada wanita-wanita cantik, Soekarno bilang, “Yang benar adalah, Bung Karno menatap setiap perempuan cantik dengan kedua bulatan matanya...” ia mencintai segala bentuk keindahan. Tak terkecuali yang ada pada wanita.

Bagi saya pribadi, kisah Soekarno dan 9 istrinya bisa diterima, mengingat sosoknya yang kharismatik dan tokoh sentral pada masanya. Wanita mana yang tidak suka? Selain itu, berkaca pada “jiwa zaman”, pada masa itu memiliki banyak istri adalah lumrah bagi penduduk Indonesia. Dari priyayi sampai masyarakat kecil. Dan juga belum adanya KB, berbanding lurus dengan jumlah penduduk yang membeludak, serta banyaknya janda korban perang. Nenek saya saja suaminya 3, dan ketiga suaminya juga memiliki istri lagi.. (hehe, ruwet memang).



Back to story... Terhitung ada 9 wanita dalam kehidupan Soekarno:


  1. Oetari (Putri HOS Tjokroaminoto/guru sekaligus ayah angkat Soekarno di Surabaya); 
  2. Inggit Garnasih (Ibu Kos Soekarno selama di Bandung); 
  3. Fatmawati (putri tokoh Muhammadiyah Bengkulu, yang dari rahimnya kemudian lahir penerus Soekarno, Megawati Soekarno Putri); 
  4. Hartini (Janda beranak 5, istri setia/Salatiga) 
  5. NAOKO NEMOTO (.....?.....); 
  6. Haryati (Penari istana/ Staf Sekretaris Negara bidang Kesenian); 
  7. Yurike Sanger (Pelajar/ Anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika);
  8. Kartini Mannopo (Pramugari Garuda Indonesia asal Bola’ang Mangondow, Sulawesi); dan 
  9. Heldy Djafar (gadis Kutai Kertanegara Timur, Kaltim).


 Gb: Silsilah Soekarno

Mengenai 9 nama diatas, secuil kisah serta peranannya dalam kehidupan seorang Soekarno akan saya bagi pada postingan selanjutnya. Artikel mengenai 9 istri Soekarno juga sudah banyak ditemui di internet. :)

Oke... saatnya menuju topik utama kita, Naoko Nemoto...



Saat mendengar nama dan melihat fotonya, apa kata yang pertama muncul dari mulut kita?

Cantik... Seksi... Luar Biasa...?

Biarlah masing-masing pihak menilai dengan kacamatanya sendiri. Kecantikan memang relatif, tapi sosok yang satu ini, agaknya akan banyak orang yang sependapat.... :D




Memang banyak kontroversi mengenai istri Bung Karno yang satu ini, pro dan kontra dalam sejarah adalah wajar adanya. Terutama saat ia meluncurkan buku berjudul “Madame de Syuga”, tahun 1998.Buku yang berisi paduan karya seni, body painting dan keindahan lekuk tubuh dirinya dalam kondisi setengah bugil (topless). Ia berdalih bukunya hanyalah seni, yang menunjukkan bahwa wanita dengan usia hampir setengah abad masih memiliki tubuh yang indah. (cantik kok emang.. cari sendiri ya foto-fotonya.. nih dibawah saya kasi sensor, takut UU pornografi..hehe)



Flashback ke belakang...

Naoko Nemoto, gadis Jepang nan cantik ini lahir di Tokyo 6 Februari 1940. Ia merupakan anak ketiga dari keluarga sederhana, ayahnya hanyalah seorang pekerja bangunan. Dan untuk membantu ekonomi keluarga, ia bekerja sebagai pramuniaga di perusahaan asuransi jiwa Chiyoda, sampai lulus sekolah setingkat SMP pada tahun 1955.
 
Setahun kemudian (saat berusia 16 tahun), gadis cantik ini memutuskan berhenti dan memilih mewujudkan mimpinya menjadi artis, bergelut di dunia entertainment. Sampai akhirnya pada 16 Juni 1959, Naoko Nemoto berkesempatan mengisi acara di hotel Imperial, Tokyo, guna menyambut kedatangan tamu negara.




Dan siapa sangka, inilah moment awal perubahan penting dalam hidupnya. Ternyata tamu yang disambutnya kala itu adalah Soekarno, presiden pertama RI yang tiada pernah ia duga akan meminangnya kemudian hari. Disinilah benih-benih cinta mulai tumbuh. Bung Karno.... jatuh hati.... :)

Dua pekan berada di Jepang, Soekarno pulang ke tanah air. Namun hatinya tertambat di negeri Sakura. Gadis cantik itu telah memikat Pemimpin Besar Revolusi kita... Soekarno pun berkirim surat, dan ternyata Naoko dengan senang hati membalas surat-surat pemimpin kita.
Soekarno pun mengundang Naoko ke Indonesia, dan turut menemaninya berwisata ke Pulau Dewata. Benih-benih cinta semakin subur di hati keduanya. 



Singkat cerita, akhirnya mereka menikah, 3 maret 1962.

“Bapak meminangku untuk dijadikan istrinya, Hatiku berdebar-debar antara gembira dan ragu. Sebab siapa pun tahu saat itu Bapak telah memiliki sejumlah istri” kenang Naoko Nemoto.
Pada saat itu juga Naoko Nemoto menganut agama islam, dan diberikan nama baru yang indah oleh Soekarno: Ratna Sari Dewi, yang berarti “Intisari Perhiasan”. Oleh publik Indonesia Ratna Sari Dewi lebih sering disapa Dewi Soekarno.

Ratna Sari Dewi masih ingat betul peristiwa itu, 
“Upacara perkawinan itu berlangsung sederhana, dengan mas kawin Rp. 5,-. Saya Ingat, yang mengawinkan kami waktu itu adalah Menteri Agama Saifuddin Zuhri. Saya dinasehati untuk menjadi islam yang baik, dan mau mempelajari setahap demi setahap. Bapak juga dinasehati, tapi terutama soal urusan wanita,”.




Di usia awal pernikahan, Ratna Sari Dewi berusaha beradabtasi dengan lingkungannya yang benar-benar baru.. meskipun demikian Ratna sempat merasa terkucil dan ketakutan di Indonesia.

“Aku tidak kenal dengan siapapun. Aku tidak memiliki teman. Bahkan setiap orang tidak menyukaiku hanya karena aku orang asing. Aku sangat tidak bahagia. Selain karena ketidaksukaan orang-orang tersebut, aku juga dalam masalah besar berkaitan dengan kecenderungan politikku, yang terlalu condong ke Barat, sementara istri kedua Presiden (yang dimaksud Fatmawati) berhaluan kiri. Ia membenciku. Ia adalah istri yang memiliki kekuasaan yang besar. Penjaga istana pun ada di bawah kendalinya sehingga, tentu saja, mereka juga membenciku. Terlalu banyak kecemburuan di sekitarku.”



Tekanan batin yang dialami Ratna semakin memuncak ketika ia mendengar berita duka dari tanah kelahirannya. Ia bercerita...

“Dan aku merasa sangat kesepian. Aku kehilangan semua anggota keluargaku. Ibuku yang sudah janda sangat kecewa dengan pernikahanku. Tidak lama sesudah aku memeluk agama Islam dan menjadi istri Presiden, beliau meninggal. Ia meninggal karena frustasi denganku. Pada hari yang sama kakak laki-lakiku bunuh diri. Hanya dalam waktu 26 jam aku kehilangan semuanya. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi, kecuali Presiden. Kehilangan dua orang anggota keluarga hanya dalam waktu 48 jam sungguh sesuatu peristiwa yang menyedihkan.”

Bung Karno yang mengetahui kesedihan Ratna Sari Dewi, berupaya menghibur dan meyakinkan istrinya yang cantik itu agar kuat dan tidak putus asa.. salah satunya adalah dengan mendirikan sebuah rumah untuk Dewi. Rumah itu dilandasi harapan untuk melipur lara Dewi, diberi nama sesuai dengan nama adik Dewi yang sudah meninggal dunia, Yasso. Yang akhirnya populer sebagai Wisma Yasso..




Usia yang terpaut sekitar 39 tahun nampaknya tidak menjadi halangan bagi hubungan mereka berdua.. Hubungan mereka semakin mesra, dan Ratna Sari Dewi semakin bisa menempatkan dirinya sesuai kapasitasnya..

Pernikahan ini berdampak baik bagi hubungan Indonesia dengan Jepang. Investasi Jepang di tanah air berkembang pesat, banyak proyek dan bantuan yang terjalin antara kedua pihak, Ibu Ratna Sari Dewi juga berperan aktif dalam melindungi aset-aset Jepang di Indonesia serta aktif membantu para tentara Jepang yang masih tertinggal di Indonesia. Peningkatan hubungan juga terjadi dalam aspek pendidikan, kesenian, dan sabagainya.




Dari pernikahan dengan Ratna Sari Dewi, Soekarno dikaruniai seorang putri yang cantik seperti ibunya, yang diberi nama Kartika Sari Dewi atau akrab disapa Karina. Bung Karno sempat menimang Kartika, meski jalan hidupnya tak memungkinkan untuk mendampinginya tumbuh menjadi gadis cantik, cerdas dengan jiwa sosial yang begitu tinggi. Ya....situasi tanah air saat itu lah yang akhirnya memisahkan mereka.... Soekarno jatuh ditangan kudeta merangkak yang dilakukan Soeharto 1965... (mengenai peristiwa hari-hari akhir Soekarno akan saya masukkan dipostingan selanjutnya)



 Gb: Ratna Sari Dewi dan Kartika anaknya



Dalam sebuah surat resmi yang ditulis Bung Karno tanggal 6 Juni 1962, terdapat sebuah puisi, salah satu bagiannya yang sangat lembut, romantis, dan juga heboh kala itu, Soekarno menulis... :

“Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai seorang istri, yang aku cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku.”

Masyarakat Indonesia sempat gempar ketika isi surat ini dibuka ke publik. Tidak hanya membuat risih dan cemburu istri-istri Sukarno yang lain, pernyataan itu juga telah menimbulkan kesan betapa kuatnya jalinan asmara antara Bung Karno dengan Ratna Sari Dewi, yang bahkan kematian sekalipun tidak akan memisahkan jasad mereka.


Gb: Ratna Sari Dewi dan Sby

Ok.....sekian dulu tulisan tentang NAOKO NEMOTO (RATNA SARI DEWI): Sakura di Hati Soekarno. Udah capek ni tangan...... :D
JAS MERAH kawan kawan......
Meerrdeekkaa...!

1 komentar:

 
isBAYU.com | Ceritanya Begini © 2015. Jombang | INDONESIA. Salam, dariku: Bayu Sulistyo Pratomo
Top