"Kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama."
(Gus Dur)


Diatas adalah cuplikan dari tulisan Gus Dur yang dimuat dalam Suara Pembaruan tahun 2003 lalu, dengan judul Harlah, Natal, dan Maulid. Tulisan Gus Dur  tersebut cukup membuktikan pada kita betapa Gus Dur memegang teguh prinsip toleransi antar umat beragama, yang memang sangat dibutuhkan di negeri yang majemuk seperti Indonesia.

Terkait perayaan Natal. Gus Dur melalui tulisannya terlebih dahulu menjabarkan konsep yang ada di dalam masyarakat, mengenai Harlah, Natal, dan Maulid.

Harlah adalah hari lahir, yang merujuk pada kelahiran seseorang/institusi (umum, tidak berkaitan dengan agama).
Sedangkan bagi kaum Muslimin, Maulid selalu diartikan sebagai saat kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sementara Natal bagi kaum Muslimin terlebih kaum Kristiani, memiliki arti khusus yaitu hari kelahiran Isa Al Masih (Yesus).

Ketiga-tiganya bermakna kelahiran, namun karena berkaitan dengan keyakinan, maka dalam istilah ini tidak dapat dilakukan penyamaan.

Gus Dur menyatakan, dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqh) kedua kata (Maulid dan Natal) adalah "kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan" (yuqlaqu al'am wa yuradu bihi al-khash). 
Hal ini disebabkan oleh perbedaan asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang sangat beragam itu. Bahkan tidak dapat dipungkiri, bahwa kata yang satu hanya khusus dipakai untuk orang-orang Kristiani, sedangkan yang satu lagi dipakai untuk orang-orang Islam.

So, bolehkah kita (umat Muslim) mengucap & merayakan natal?

Berikut point penting dalam tulisan Gus Dur yang menjelaskan hal tersebut:


Natal, dalam kitab suci al-Qur'an disebut sebagai "yauma wulida" (hari kelahiran), yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa. Seperti terkutip: "kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)" (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. 
Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: "Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku" (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa. Bahwa kemudian Nabi Isa "dijadikan" Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu.
Artinya, Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur'an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan. Jika penulis merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah Swt.


So.......... :)

Rasanya sudah saatnya kita mengesampingkan perbedaan, bahkan syukur2 kalau bisa menjadikannya kekuatan dalam kebersamaan. Sadari bahwa kita terlahir di negeri yang "berbhinneka", banyak perbedaan yang seharusnya menguatkan. Bukan saatnya saling memusuhi/ intoleran terhadap minoritas.... Apalagi, mem-fatwa-kan haram untuk sekedar ucapan selamat....

Bukankah perbedaan itu indah?

SELAMAT NATAL.. DAN TAHUN BARU !

UNTUK TEMAN, SAUDARA, DAN KELUARGAKU YANG BERAGAMA KRISTEN...

Khususnya keluarga Tante Yanti di Bali. :)


Oh ya, tulisan Gus Dur mengenai Harlah, Natal, dan Maulid, selengkapnya masih bisa di lihat disini.

Sekian tulisan tentang Gus Dur dan Ucapan Selamat Natal. Semoga bermanfaat.

1 komentar:

  1. untuk hal yg satu ini, saya tidak sependapat dgn Gus Dur.. tapi saya tetap menghargai beliau dan menganggapnya sbg Guru Besar yg membari kontribusi besar bagi muslimin Indonesia.. (h)

    BalasHapus

 
isBAYU.com | Ceritanya Begini © 2015. Jombang | INDONESIA. Salam, dariku: Bayu Sulistyo Pratomo
Top